Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2005

Undangan

Hari ini ada temen saya dikantor yang nyebar undangan buat resepsi pernikahannya hari sabtu depan (saya belum punya baju buat acara itu, sumpah). Undangannya lumayan bagus, kental dengan nuansa coklat. Sebenernya, bukan masalah undangan ini yang mau saya bahas, ini sih cuma intro aja :)

Barusan, saya buka friendster saya dan ada message baru dibulletin boardnya, subjeknya 'yang harus disiapin buat nikahan gue'. Asik kan bahasannya!? Tanggapan yang masuk juga lumayan menarik, simak aja beberapa dibawah ini:
'kalo gw mau nyiapin gedung yang gede biar muat buat keluarga besar gw and bla..bla..bla' (menurut saya pribadi, resepsinya ga mesti diadain digedung kan, bisa aja dikebun atau dipinggir danau gitu, cieee..)
'Klo gw mah siapin aja dulu calon mempelai prianya...' (yaa Tuhan gue banget sih, hik..hiks..)
'Gw mau nyiapin fisik, olahraga diperbanyak, biar kuat!' (persis kaya atlet daerah yang mau dikirim ke PON)
'Restu istri? :D (yang ini pasti butuh persi…

Hoping for the Best, Prepared for the Worst

Kemarin ditengah jalan mau kekantor, tiba-tiba turun hujan lebat. Untung saya selalu bawa jas hujan ditas saya (pergi dan pulang ke kantor, nebeng naik motor temen), jadi saya bisa melanjutkan perjalanan ditengah hujan deras itu. Hari sebelumnya, saya ngga bisa ikut pulang bareng sama temen saya itu gara-gara dia harus jemput anaknya. Untung saya bawa uang lebih dikantong saya untuk ongkos naik kereta Depok Express (awal tahun ini naik 1500 perak, jadi 7500 sekali jalan, damn!). Tadi pagi pas di lady’s, tiba-tiba (maaf) retsleting celana saya rusak, ngga bisa dipasang. (Lagi-lagi) untung saya selalu sedia celana panjang dilaci meja saya, buat back up kalau-kalau terjadi situasi seperti ini.

Apa sih yang bisa diambil dari kejadian-kejadian tak diharapkan diatas? Yaa, bahwa segala sesuatu itu ngga selamanya berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Kita boleh mempunyai rencana apa aja, agenda seperti apa aja, dan kita boleh aja mempersiapkan diri matang-matang buat rencana kita i…

So I released the pain

Pas tadi malem sumpek saya datang lagi, saya puter CD Lighthouse Family yang kebetulan baru aja dikasih sama temen dikantor (baik banget yaa tuh anak, hari gini gitu lho ngasih CD gratis). Terus pada lagu Free-nya saya puter berulang-ulang, maksud saya BERULANG-ULANG. Pelan-pelan rasa sedih, sumpek, marah, kecewa dan energi negative lainnya hilang. Pelan-pelan sekali, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya hilang pada saat itu. Yang tertinggal adalah perasaan tenang, merasa rongga dada lebih lebar dan bisa mensuplai udara segar lebih banyak kedalam diri saya. Amazing kan, gimana sebuah lagu bisa melepaskan sakit, biarpun cuma buat saat itu, sementara, tapi lumayan untuk membantu proses recovery.

Sampai saat ini, lagu itu terus terdengar dikepala saya. Ditengah-tengah sumpeknya kantor, pekerjaan, kehidupan pribadi yang payah, lagu itu seperti jadi theme song saya hari ini.

I wish I knew how it would feel to be free
I wish I could break all the chains holding me
I wish I could say all t…

I've been saved

Kemarin, teman saya baru aja menyelamatkan saya dari ide yang mungkin timbul dari keputusasaan yang saya yakin dapat jadi bumerang bagi hidup saya sendiri. Dalam keadaan shock (so much cloud over my head), kadang saya lupa kalo ada yang namanya akal sehat dalam kepala mungil saya ini. Nah, teman saya ini udah ngingetin saya kalo ternyata masih ada sel-sel kelabu (kata Hercule Poirot) yang lebih patut digunakan ketimbang rasa desperate itu.

Saya percaya, itulah salah satu fungsi teman yang sangat esensial. Mengingatkan kita pada saat kita lupa (manusia itu sifatnya pelupa kan!?), mengingatkan kita untuk tidak menggali lubang buat kita sendiri, menghindari kita dari rasa malu akibat lupa kalo kita masih punya akal sehat. Senangnya punya teman-teman seperti itu, yang dengan caranya sendiri, sadar atau pun tidak, menyelematkan hidup kita dari kelumpuhan sesaat ataupun permanen, membuat kita terus berjalan dengan kepala tegak.

Jangan pernah berhenti untuk saling mengingatkan ya. Lain kali …

Ternyata

Ternyata ...ada yang jauh lebih menyebalkan dari narsis. Yup, orang yang suka cari muka, sikut kanan kiri, kalo perlu tusuk dari belakang. Orang kaya gini, pasti ada dimana-mana, cuma bentuknya aja yang beda. Bagi orang tersebut mungkin memberikan kesenangan tersendiri ketika menyudutkan orang lain demi keselamatan dan kepentingan pribadinya. Mencari point dimata orang lain (baca: Boss) dengan menjatuhkan sesame rekan, yang menurut kita ga etis sama sekali, buat “primata” jenis itu jadi sah2 aja, malah jadi guideline hidup mereka. Nyebelin banget kan?? Jauh lebih menyebalkan dari pada narsis.

Forgive n Forget?

Just forgive and forget? Ngga segampang ngomongnya deh. Bisa aja forgive, tp forget?? susah banget deh. Klo ada orang yg heal this broken heart, mungkin akan ngebantu banget buat forget. Masalahnya ga gampang nemuin atau nerima orang lain pada saat down kaya gini. Kita juga ga bisa kan tiba2 ngerubah yg tadinya permata jd primata? It takes time...

Time

TIME IS PRECIOUS

To realize the value of ONE YEAR
Ask a student who has failed in his exam

To realize the value of ONE MONTH
Ask a mother who has given birth to a pre-mature baby

To realize the value of ONE WEEK
Ask an editor of a weekly

To realize the value of ONE DAY
Ask a daily wage labour

To realize the value of ONE HOUR
Ask the lovers who are waiting to meet

To realize the value of ONE MINUTE
Ask a person who missed the train

To realize the value of ONE SECOND
Ask the person who has survived an accident

To realize the value of ONE MILLI SECOND
Ask the person who has won the Silver Medal in Olympics

(Taken from CHANDRAKANT M. JOSHI, Indian Patent & Trade Mark Attorneys’ Booklet)

Life is all about choice

Hidup memang merupakan suatu pilihan. Kadang-kadang pilihannya gampang, kadang-kadang bikin dahi berkerut. Mirip multiple choice waktu ujian disekolah dulu, kadang dengan sekali baca kita udah bisa nentuin pilihan, a, b atau c. Tapi ngga jarang juga pilihannya njlimet, sampe kita harus ngitung kancing (padahal udah semaleman belajar).

Yang bikin pilihan itu sulit, karena konsekuensi yang mengikutinya. Seringkali pilihan kita itu, dengan atau tanpa kita sadari, bisa menjadi senjata yang ampuh banget buat menghancurkan kebahagiaan orang lain, menyakiti perasaan orang lain atau bisa jadi bumerang buat kita sendiri. Pilihan dan konsekuensinya, itu satu paket, ngga bisa dipisah. Mengambil keputusan atau membuat pilihan berarti menghadapi resiko yang ada dibalik pilihan itu.

Untuk dapat terus hidup, kita memang harus sanggup memilih, apapun pilihan itu, sekalipun membuat orang (yang kita sayang) menangis atau hati kita sendiri teriris.

Yup, life is all about choice.

Pada Akhirnya..

Pada akhirnya .. kita pasti akan merasa capek, lelah dan merasa semua yang kita lakukan sudah cukup. Pada akhirnya kita akan merasa apa yang kita alami lebih dari cukup untuk kita memulai lembaran baru dalam hidup kita ini. Kita sudah cukup merasakan having fun, traveling, bebas kesana-sini, nge-date sana-sini, dan kita ngga lagi merasakan greget dari semua itu, cuma datar dan jenuh. Kitapun sadar bahwa itu semua bukanlah tujuan akhir dari perjalanan yang sudah kita mulai. Pada akhirnya kita pingin settled, punya pendamping, keluarga yang hangat dan anak-anak untuk kita jaga dan besarkan.

Mungkin fase ini yang sedang dialami sama seorang temen gw. Waktu dia bilang mau getting married, I can hardly believe it (at least ngga sekarang, 5 atau 6 tahun kedepan mungkin). Gw sering mengidentikkan dia sama dunia malem, pribadi yang lebih suka beli sate daripada beli kambing (sorry dude..). Pada akhirnya dia milih buat settled. Memilih satu perempuan buat dia jadiin pendamping dan mempercay…